Home Kumpulan Artikel Anak Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang Efektif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Salsabila   
Kamis, 06 Maret 2008 08:09

Kehadiran anak dalam suatu keluarga sangatlah didambakan oleh pasangan suami istri. Hal ini disebabkan alasan-alasan yaitu:

  • Hadirnya anak, suami maupun istri dapat mengaktualisasikan diri bahwa mereka adalah suami/istri yang dapat memberikan keturunan.
  • Hadirnya anak adalah sebagai suatu buah cinta kasih antara pasangan suami dan istri.
  • Hadirnya anak suatu bukti ibadah dari pasangan suami istri yang diwajibkan berkeluarga untuk fungsi pengembangbiakan.
  • Hadirnya anak sebagai suatu fungsi social, untuk mempertahankan kebardaan clan.

Namun anak juga berdampak pada perubahan status pasangan suami istri yaitu status orangtua, bapak dan ibu yang mempunyai kewajiban sebagai pemelihara, pengayom, pendidik, dll. Dengan kewajiban sebagai orangtua bias saja mengganggu kebahagiaan antara suami istri, terutama anak berada pada masa balita dimana perhatian si istri lebih tercurah pada anaknya yang masih sangat memerlukan pemeliharaan fisik yang harus dibarengi secara simultan dengan sentuhan-sentuhan psikologis. Pemeliharaan fisik yang secara mekanistik tanpa komunikasi yang produktif dengan sentuhan emosional akan berdanpak pada perkembangan kepribadian selanjutnya.

Meskipun pada bayi belum berkembang kemampuan pengertiannya menurut Brocca dan Penfiel Akhli bedah syaraf otak menyatakan bahwa ada sekumpulan sel-sel otak yang berfungsi merekam peristiwa-peristiwa yang di dengar, dilihat dan dihayatinya. Sesuai dengan perkembangan mentalnya maka anak akan mampu menyeleksi atau mengedit hal-hal apa dalam rekamannya yang perlu ditampilkan dalam ia menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kumpulan dari hasil editing akan merupakan naskah atau scenario yang harus diperankan oleh sianak dalam menjalani hidupnya kelak, apakah ia menjadi seorang yang selalu kalah atau memenangkan hidupnya, apakah ia menjadi seorang yang berputus asa, atau  selalu menuntut, rendah diri ataukah seorang yang sehat mental. Banyak pepatah Indonesia yang berkaitan dengan hal ini antara lain, “Hati-hati berbicara dan bertingkah laku di depan anak, karena akan ditirunya”. “Air cucuran atap jatuhnya kepelimbahan juga”. “Buah jatuhnya tak jauh dari pohonnya”.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai orangtua, hal yang sangat penting harus dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi. Beberapa prinsip berkomunikasi dengan anak adalah:

Anak adalah individu yang memiliki harkat dan martabat yang sama dengan orangtua. Ia tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari individu lainnya. Orang tua harus mengakui hak azasi si anak. Orang tua harus mau mendengar apa yang diutarakan dan diekspresikan oleh anaknya. Hal ini berarti orangtua harus bersikap demokratis, tidak otoriter.

Orang tua adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu tidak ada salahnya bila orang tua secara terbuka mengakui kesalahannya tanpa takut kehilangan wibawa.

Dunia anak adalah mas bermain, berbeda dengan dunia orang dewasa yaitu dunia berprestasi. Pendekatan bermain akan lebih menguntungkan dalam berkomunikasi.

Dalam pembentukan suatu perilaku melalui prinsip bahwa suatu tingkah laku yang memberi dampak menyenangkan akan cenderung diulangi. Sebaliknya tingkah laku yang berdanpak tidak menyenangkan akan cenderung dihindari. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan anak akan lebih efektif bila menyampaikan maksud pada anak dengan muka yang ceria, mulut tersenyum dan kata-kata manis yang menyentuh kalbunya, agar dia tahu apa yang ada dibalik ucapan yang orangtua lontarkan, misalnya bila marah, si anak harus tahu bahwa orang tua sedang marah tanpa ia sakit hati.

Pemberian “tanda perhatian yang positif” perlu diperbanyak sesuai dengan prestasi yang dicapai si anak. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan dirinya berharga.

Kata dan ucapan yang disampaikan sesuai dengan tingkah pengertiannya dan perbendaharaan kata.

Dalam berkomunikasi dengan anak perhitungkanlah “ketupatnya” (keadaan, waktu dan tempat).

Dalam situasi konflik dengan anak karena perbedaan kebutuhan, usahakan agar tidak ada pihak yang kehilangan muka atau dipermalukan. Gunakanlah metode anti kalah bukan metode “saya menang kamu kalah” atau metode “saya kalah kamu menang”.

Dengan bermodalkan kasih saying yang mendalam maka komunikasi dengan anak akan produktif dan efektif. [man/mklh]

 

Terakhir Diperbaharui: Selasa, 15 April 2008 09:33