Home Kumpulan Artikel Lain-Lain Bencana, Sebuah Renungan
Bencana, Sebuah Renungan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Salsabila   
Kamis, 06 Maret 2008 08:11

Syahdan, penduduk negeri Madyan menganggap riba hal yang biasa, mengurangi timbangan dan takaran dalam jual beli boleh-boleh saja, saling berbohong dalam perjanjian dianggap lumrah, menipu dianggap bukan perbuatan tercela, membolak-balik hak menjadi batil biasa dilakukan. Tuhan kemudian mengutus Nabi Syuaib ke negeri Madyan untuk meluruskan perilaku buruk yang diperagakan penduduknya. Tetapi mereka mengingkari Nabi Syuaib. Tuhan kemudian menjatuhkan musim kemarau yang panjang. Akibatnya, tumbuhan dan hewan mati, sehingga penduduk menderita. Meskipun demikian, mereka tetap tidak bersedia mengubah perilaku buruk yang biasa mereka peragakan.

Karena tetap membangkang, mereka lalu dikirim sekumpulan awan hitam. Mereka menyangka awan hitam itu awan pembawa hujan. Mereka sangat gembira. Mengira segera akan turun hujan, mereka beramai-ramai berkumpul di bawah awan hitam itu. Tidak lama kemudian yang terjadi bukan seperti yang mereka sangka. Bukannya hujan yang turun melainkan guntur yang menggelegar mengeluarkan kilatan dan semburan api membakar semua yang berada di bawah awan hitam itu. Apakah perilaku yang diperagakan sebagian orang di beberapa tempat sekarang ini seperti perilaku penduduk negeri Madyan sehingga kepada mereka ditimpakan musibah gempa, tsunami, banjir dll.?

Bila dipahami secara mendalam bencana apapun yang dipandang buruk oleh manusia pada dasarnya tidak lepas dari dua macam penyebab.

Pertama, bencana yang merupakan sunnatullah seperti gempa bumi, tsunami, meletusnya gunung berapi dll. Bencana seperti ini manusia tidak punya andil sedikitpun yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhkuk lemah yang mudah hancur. Dalam hitungan menit bahkan detik, kehidupan yang diangun bertahun-tahun bisa hancur seketika. Canda tawa sekejap berubah menjadi duka lara. Sehingga bencana seperti ini dapat menimpa siapapun, muslim atau kafir.

Kedua, bencana yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Misalnya banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah, merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah tidak dilaksanakan ,mewabahnya penyakit kelamin (seperti AIDS) akibat pergaulan bebas, dll.

Karena itu, menyikapi bencana yang pertama, yang merupakan sunnatullah, manusia sebetulnya hanya perlu tiga hal. Pertama, keimanan, sehingga kita wajib meyakini bahwa musibah apapun yang terjadi memang telah digariskan oleh Allah SWT: "Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami." (Qs at-Taubah [9]:51). Kedua, kesadaran, segala bentuk bencana alam yang merupakan sunnatullah itu merupakan bukti kemahakuasaan Allah. Dengan itulah, kita seharusnya menyadari betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya dihadapan kemahakuasaan Allah (lihat Qs. ar-Rad [13]: 41 di atas. Ketiga, kesabaran dengan bencana alam yang Allah ciptakan, Allah sebetulnya hendak menguji kesabaran manusia lalu Dia menciptakan berbagai macam bencana seperti wabah kelaparan akibat kurangnya makanan, wabah kekeringan, kehilangan harta bahkan nyawa akibat bencana alam dsb.

Sedangkan untuk menyikapi bencana yang kedua terjadi akibat ulah manusia, selain keimanan, kesabaran, dan kesadaran diatas, manusia perlu bertaubat dan kembali secara total pada hukum Allah, dengan kembali melaksanakan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan. Sebab, dengan bencana jenis kedua ini Allah memang menghendaki agar manusia mau kembali kejalan-Nya, Allah SWT berfirman: "Telah nyata kerusakan didaratan dan dilautan akibat ulah manusia agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka mudah-mudahan mereka kembali (kejalan-Nya)." (Qs ar-Rum [30] : 41).

Seorang muslim yakin bahwa segala bencana yang menimpa manusia, baik yang terjadi sebagai sunnatullah yang tidak mugkin dia kuasa melawannya maupun berkaitan dengan sebab akibat, semuanya merupakan takdir Allah SWT yang harus diimani dan diterima dengan sikap ridha terhadap kehendak-Nya disertai sabar yang akan menumbuhkan optimisme hidup. Karena itu, kaum muslimin yang menyaksikan saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana alam sudah semestinya ikut prihatin dan memberi bantuan baik moril maupun materil. [man/rul]

 

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 15 Oktober 2008 10:22