| Sosok Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar r.a. |
|
|
|
| Ditulis oleh Salsabila | |||||
| Kamis, 06 Maret 2008 08:14 | |||||
Halaman 1 dari 3 Kalau kita bicara figur kepemimpinan mana yang terbaik dan layak menjadi teladan? Tentu secara imani, sebagai seorang muslim kita langsung mengatakan Rasulullah saw. Beliaulah saw. yang merupakan pemimpin riil kaum muslimin, di samping pemimpin para Nabi. Para sahabat beliau saw. adalah orang-orang yang bergaul dan berjuang bersama-sama beliau saw. Merekalah orang-orang yang mampu memahami dan merasakan ajaran Islam dan mampu meneladani Rasulullah saw. secara utuh. Di antara mereka, sepeninggal Rasul, ada yang menjadi khalifah, pengganti Rasulullah saw. dalam kepemimpinan umat, dalam rangka menjalankan pemerintahan dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Dari merekalah kita bisa mendapat banyak pelajaran bagaimana meneladani Rasululah saw. dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan. Tulisan ini menguraikan sosok kepemimpinan salah seorang sahabat rasulullah saw. yang paling utama, pengganti beliau saw. mengimami sholat, dan pengganti beliau saw. dalam kepemimpinan negara dan umat Islam sepeninggal beliau saw., yakni Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a. Cerdas, Supel, Jujur dan BeraniMenurut Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Nabawiyah Juz I/249-250, Abu Bakar r.a. adalah putra Abu Quhafah. Nama aslinya Abdullah, panggilannya Atiq (sang Tampan) lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. Tatkala masuk Islam, Abu Bakar r.a. menampilkan keislamannya, dan mengajak orang kepada Allah dan Rasul-Nya. Dakwah Abu Bakar ini cukup efektif mengingat dia adalah seorang Quraisy yang yang supel dalam pergaulan, disukai dan diterima, seorang pebisnis, berbudi pekerti yang baik. Orang-orang biasa datang kepadanya dan bergaul dengannya untuk banyak urusan lantaran ilmu yang dimilikinya, bisnisnya, dan baik pergaulannya. Sejumlah sahabat yang masuk Islam di tangan Abu Bakar antara lain adalah Utsman bin Affan r.a., Zubair bin Awwam r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Saad bin Abi Waqash r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Abu Bakar r.a. adalah orang yang cerdas, mudah mengerti dakwah yang disampaikan Rasulullah saw. sehingga dia pun cepat membenarkan dan meyakini apa yang dikatakan beliau saw. dan masuk Islam. Ibnu Hisyam (idem, hal 252) mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: مَادَعَوْتُ أَحَدًا إِلَى اْلإِسْلاَمِ إِلاَّ كاَنَتْ فِيْهِ عِنْدَهُ كَبْوَةٌ، وَ نَظَرَ وَ تَرَدَّدَ، إِلاَّ مَاكاَنَ مِنْ أَبِيْ بَكْرٍ بْنِ أَبِيْ قُحَافَةَ، مَاعَكَمَ عَنْهُ حِيْنَ ذََكَرْتُهُ لَهُ، وَمَا تَرَدَّدَ فِيْهِ. “Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan dia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Tatkala aku berbicara dengannya, dia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan dia tidak ragu-ragu.” Tatkala Nabi saw. diperjalankan oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang langsung menolak kabar dari beliau mentah-mentah, bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad, atau masih ragu-ragu, Abu Bakar secara cerdas membenarkannya dan mengatakan: “Jangankan kabar dari Muhammad saw. bahwa di berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshaa, sedangkan kabar yang diperolehnya dari langit dalam sekejap saja saya terima”. Dengan keyakinan itu pula Abu Bakar siap dibina dengan Islam dan siap berjuang untuk Islam. Abu Bakar berani dan siap mengambil resiko berhadapan dengan Quraisy dalam mendakwahkan Islam. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menuturkan: Tatkala Rasulullah saw. melaksanakan perintah Allah SWT untuk memperkenalkan kelompok dakwahnya secara terang-terangan (lihat QS. Al Hijr … ), dengan cara membentuk dua barisan yang dikepalai Hamzah r.a. dan Umar r.a. menuju Ka’bah, maka di situlah, di depan perwakilan para kabilah di Makkah, Abu Bakar r.a. berpidato. Dan orang-orang Quraisy pun memukulinya sampai mukanya babak belur dan pingsan. Namun setelah siuman, yang ditanyakan pertama kali adalah : Bagaimana keadaan Rasulullah ? Pantaslah dia mendapatkan gelar As Shiddiiq, artinya yang lurus, yang benar, yang membuktikan kebenaran ucapannya dengan perbuatan. |
|||||
| Terakhir Diperbaharui: Rabu, 15 Oktober 2008 10:59 |





