| Anak Unggul Lahir dari Ibu Tangguh |
|
|
|
| Ditulis oleh Salsabila | |||||||
| Kamis, 06 Maret 2008 08:15 | |||||||
Halaman 1 dari 5 Sebuah kisah nyata, seorang bayi hilang bersama orang tuanya di dalam rimba. Kedua orang tuanya meninggal dan anaknya atas kehendak Yang Maha Kuasa, sang bayi masih hidup dan dipelihara oleh segerombolan serigala. Delapan tahun kemudian, para peneliti hutan menemukannya dan membawa anak kecil ke peradaban manusia. Hal yang menyedihkan terjadi, anak kecil itu bagaikan seekor serigala. Ia berjalan dengan kedua kaki dan tangannya, menangis dengan mengaum bagaikan lolongan serigala. Demikian pula dengan makanan yang dia santap adalah makanan mentah layaknya makanan binatang liar. Tidak sampai satu tahun dia hidup bersama manusia, akhirnya anak malang ini mati karena kerinduannya yang sangat terhadap dunia bebas dan liar bersama para serigala. Ia tak mampu menjadi manusia yang sesungguhnya, yang bisa berfikir, berperilaku layaknya manusia, yang dibesarkan oleh orang tuanya. Kisah nyata ini memberikan gambaran kepada kita bahwa kualitas anak kita sangat tergantung kepada input-input yang telah diberikan sejak dini oleh pengasuhnya. Seekor serigala tentunya akan mengajarkan bagaimana si anak hidup sesuai dengan kebiasaan binatang, sehingga si anak persis sama dengan binatang walaupun si anak punya potensi manusia seperti akal yang seharusnya bisa ia gunakan untuk berfikir, bersikap, bertingkah laku seperti manusia. Demikian pula dengan anak-anak yang dibesarkan oleh ibunya . Seorang ibu yang mempunyai kemampuan, ilmu-ilmu pengetahuan (Fase tumbuh kembang anak, ilmu-ilmu agama dan lain-lain), kesabaran dalam mendidik anak tentu akan lebih besar peluang keberhasilannya dalam mencetak anak yang unggul dibanding ibu yang tidak punya persiapan apa-apa dan tidak berupaya mencarinya serta menyerahkan sepenuhnya pada lingkungan sosialnya. Seorang ibu yang kurang mengerti akan peran kualitasnya buat pendidikan anaknya akan sering memperdengarkan kata-kata yang buruk, jorok, cacian, hinaan dan bentakan. Dari contoh seperti ini, mungkinkah ia dengan mudah diseru kepada kebajikan? Jika selama hidupnya ia hanya mendengar kata-kata yang buruk dan jorok, jahat : bagaimana reaksinya ketika mendengarkan suara-suara kebajikan, suara adzan, pembacaan kalam Ilahi serta nasihat-nasihat orang tua sendiri? Jika kita berharap agar anak-anak kita mendengarkan hal-hal yang baik, menyaksikan yang baik, memikirkan kebajikan dan kebenaran, maka tentunya harus ada input-input yang seperti itu yang diberikan oleh ibunya secara sadar dan terencana. Pola pikir, pola sikap serta kecenderungan-kecenderungan sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh input-input yang diberikan sebelumnya. Semakin dini kita berikan input-input positif kepada anak kita maka semakin kuat tertanam dalah dirinya yang akan mempengaruhi kepribadiannya kelak. Dalam sebuah sabda Rasulullah dikatakan bahwa anak adalah sebagai salah satu tabungan amal yang tetap akan mengalirkan pahala kepada orangtuanya sekalipun orangtuanya telah kembali ke hadirat Ilahi Robbi. Ibu mana yang tidak ingin memilikinya anak yang seperti itu? Anak seperti apakah yang bisa demikian? Apakah semua anak bisa menghadiahkan pahala seperti itu? Mereka adalah anak-anak yang unggul. |
|||||||
| Terakhir Diperbaharui: Selasa, 15 April 2008 10:03 |





